Minggu, 15 Juni 2014

Review Novel : (Bukan) Salah Waktu




Identitas Buku
Judul: (Bukan) Salah Waktu
Penulis: Nastiti Denny
Cetakan: Pertama, Desember 2013
Penerbit: Penerbit Bentang
Tebal: 248 halaman
Harga: Rp. 46.000,-
*** 

Memiliki trauma masa lalu akibat pertengkaran dan penolakan oleh orang tuanya membuat Sekar -wanita yang selalu aktif dan memiliki karir yang cemerlang- itu akhirnya memutuskan berhenti bekerja dan fokus untuk mengurus rumah tangga dan suaminya, Prabu. Tak disangkanya kehidupan “baru” ini malah membuat Prabu mengetahui rahasia yang selama ini Sekar tutup rapat. Alih-alih meminta penjelasan Sekar tentang rahasianya itu, Prabu malah menyimpan rahasia yang lebih kelam. Adalah Bram, sosok yang membawa kejutan kepada Sekar dengan cerita tentang Larasati, wanita masa lalu Prabu.

Maka, ketika semua rahasia Prabu telah terungkap, Sekar hanya bisa memilih untuk memaafkan sang suami beserta masa lalu kelam yang mengiringinya atau membiarkan biduk rumah tangganya bersama Prabu yang telah terbina dua tahun itu berantakan.
***

Dengan cover bergambar jam yang dipadu warna putih dominan, sangat mewakili isi cerita si tokoh utama (Sekar Melati) yang mau tak mau harus menghadapi sebuah kisah kelam di masa lalunya dan masa lalu suaminya. Meski terlihat sederhana, cover buku ini tetap eye catching apalagi ditambah label “Pemenang Lomba Novel Wanita dalam Cerita” yang membuat buku ini punya selling point lebih. Sayang, blurb yang berisi perasaan tokoh utama terasa kurang memikat.

Pembukaan cerita tentang mimpi masa lalu Sekar sungguh awal yang baik karena penulis mampu menghadirkan kejadian yang membuat pembaca langsung penasaran, apalagi gaya menulisnya lincah dan mengalir. Namun, narasi tanpa dialog yang dipaparkan penulis dari halaman pertama hingga keenam sedikit membuat saya jemu.

Menggunakan alur maju yang diselingi flashback di beberapa bagian membuat novel ini tak monoton, apalagi penulis menyelipkan sedikit twist di pertengahan ceritanya. Meskipun ending cerita mudah ditebak, namun banyak quote dan pelajaran menarik yang bisa dikutip di setiap babnya.

Karakter tiap tokohnya cukup kuat. Sekar yang mandiri, Prabu yang bukan tipe lelaki romantis dan cenderung plin-plan, Bram yang flamboyan serta Larasati yang masih labil emosinya. Sayang, meski menjadi salah satu tokoh penting namun bagian cerita untuk Larasati terlalu sedikit dan kurang digali, malah terkesan dipaksakan menghilang menjelang akhir cerita. Padahal saya berharap tokoh ini mampu membuat cerita lebih “nendang” sekaligus membuat chemistry Sekar dan Prabu sebagai suami istri yang terasa hambar di awal cerita bisa lebih kuat.

Deskripsi setting tempat, waktu dan suasana telah dipaparkan secara jelas oleh penulis sehingga saya bisa membayangkan dengan mudah bagaimana bentuk tempat ataupun kejadian yang dialami para tokohnya. Akan tetapi penulis tidak konsisten dalam memberikan beberapa keterangan, seperti nama kakak Prabu (Leni atau Putri?) dan nama yayasan Bu Yani (Jalin Kasih atau Tali Kasih?)

Meski bertema tentang permasalahan rumah tangga, namun novel ini juga cocok dibaca remaja. Selain karena tak ada adegan yang berlebihan, dalam novel ini juga tersirat amanat bahwa kita harus berhati-hati ketika menikmati masa muda karena jangan sampai kita membawa kisah masa lalu yang kelam ketika dewasa atau berumah tangga nanti.

Akhirnya saya sematkan 3 bintang untuk novel ini. So, good job buat Mbak Nastiti. Ditunggu karya berikutnya.. :D







 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar